Dinamika Pemilihan Pimpinan DPD RI, Menghangat

  • redaksi
  • 29/09/2019
  • 52 Views
  • 0

Alirman Sori memaparkan situasi terkini (29-09/2019) , jelang pemilihan pimpinan DPD RI.

 

KOMPASPOLITIK.id — Alirman Sori, anggota DPD RI terpilih asal Sumatera Barat tak memungkiri suasana ‘gaduh’ menyelimuti Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menjelang pengambilan sumpah dan janji anggota DPD RI periode 2019-2024.

Persoalan mendasar yang memicu kegaduhan terkait tata tertib pemilihan pimpinan DPD.  Selentingan menyebut, “gajah-gajah” berkonflik dalam memperebutkan Ketua DPD.

Sejumlah anggota incumbent yang terpilih kembali memprotes hasil kerja tim kerja tatib yang dinilai
cacat formil, karena tidak melalui tata cara dan mekanisme aturan yang berlaku

Perseteruan  kelompok Osman Sapta dan Gusti Kanjeng Hemas seakan terjadi.  Persaingan semakin meruncing ditandai dengan ada aksi penolakan pemberlakuan tatib baru oleh kelompok yang merasa calon mereka dirugikan atas tatib yang baru.

Diprediksi, pada 1 oktober 2019 besok, memasuki pemilihan pimpinan DPD RI, suasana sidang paripurna DPD RI bakal ramai terhadap aksi penolakan tatib yang kelahiranya diduga cacat formil dan tidak prosedural. Bahkan, aksi yang lebih parah adalah adanya calon oknum pimpinan DPD RI melakukan intervensi untuk mendapatkan dukungan.

Alirman Sori memaparkan situasi terkini (29-09/2019) , jelang pemilihan pimpinan DPD RI.

Dinamika pemilihan pimpinan DPD RI, menghangat, terutama adanya aksi menolak pemberlakuan tatib baru yang diduga kontroversial, cacat formil dan prosedural.

Menurut dia, persoalan tatib menghangat, karena adanya pasal tertentu di dalam tatib dinilai mendegradasi hak politik seseorang maju sebagai calon pimpinan DPD RI, misalnya tidak pernah
mendapat saksi pelanggaran tatib, pelanggaran kode etik dan tidak bersatatus sebagai tersangka.

“Sementara mereka terpilih sebagai anggota DPD, secara aturan berhak memilih dan dipilih menduduki jabatan tertentu,” ujar Also panggilan akrabnya.

Menurut pandangan Alirman Sori, dari kandidat pimpinan di antaranya La Nyalla, Sultan Najamuddin, Nono Sampono, Mahyuddin dan GKR Hemas punya peluang yang sama untuk menjadi pimpinan DPD RI ke depan.

Tapi, siapa yang berpeluang menjadi ketua, ia menyebut akan berproses secara alami.

Menurut keyakinan Also, sosok ketua yang akan terpilih nanti adalah sosok yang baik, cerdas, pintar, berpengalaman dan yang tidak suka marah-marah.

Lembaga Riset Investigasi dan Multimedia menyebut nama-nama yang berpeluang besar menjadi Ketua DPD RI, periode 2019-2024.  Ada tiga nama yang berpeluang kuat,” demikian rilis yang disebar, 27 September 2019.

Survei dilakukan secara random lewat  telepon genggam,  wawancara kepada  136 calon anggota DPD RI, hari ini pukul 19.30 WIB.

Untuk nama yang menonjol dan tetap kuat adalah:  Gusti Kanjeng Ratu Hemas, mantan wakil ketua DPD periode lalu dan sudah menjabat sebagai senator selama empat periode.

Ratu Hemas adalah istri dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Berikutnya, kandidat kuat adalah Nono Sampono.  “Itu orangnya Oso,” demikian anggota DPD yang enggan disebut namanya menjelaskan.

Mantan wakil ketua DPD RI pada periode sebelumnya.

Sebelum menjadi politisi dia pernah menduduki posisi Kepala Badan SAR Nasional (2011), Danjen Akademi TNI  (2007-2011), dan Komandan Korps Marinir TNI AL (2006-2007).

Nama Jimly Asshiddiqie dari DKI Jakarta saat ini juga menguat.

Ikonik dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), pernah menjadi ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum (DKPP) periode 2012-2017. Ia juga pernah menduduki kursi ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2003-2008.

Dukungan semakin menguat juga terhadap La Nyalla.

Pria yang pernah menjabat ketua umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) periode 2015-2016. Dia juga pernah menjadi kepala Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jawa Timur dan ketua umum Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Jatim.

Fadel Muhammad dari Gorontalo, yang merupakan mantan Gubernur Gorontalo juga disebut moncer. Ia pernah menduduki posisi Menteri Kelautan dan Perikanan di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Belakangan  ini, nama orang kaya ini menjadi pembicaraan. Anggota DPD 2019-2024 asal Kalimantan Mahyudin juga disebut-sebut sebagai sosok yang pantas.

Peta pemilihan pimpinan DPD RI memang akan berlangsung ramai, di tengah suhu politik kantor sebelah yakni DPR RI sibuk dengan RUU.  Untuk DPD RI, ternyata hanya tiga nama yang akan bertarung ketat.

Untuk nama-nama Ketua DPD yang akan  menjadi  “kuda hitam” atau sosok yang  pantas, belum mengerucut pada satu nama.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kompas Politik