• Homepage
  • >
  • NASIONAL
  • >
  • Pemilihan Ketua dan Pimpinan DPD-RI, dimulai jam 19.00 WIB

Pemilihan Ketua dan Pimpinan DPD-RI, dimulai jam 19.00 WIB

  • redaksi
  • 01/10/2019
  • 103 Views
  • 0

Ada tiga pimpinan  dari Indonesia Timur. Yakni Mahyudin (Kalimantan), Nono Suparno (Ambon) dan La Nyala (Makasar).  Sedangkan, satunya dari barat adalah Sultan Najamudin.

KOMPASPOLITIK.id — Beredar surat undangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dengan logo burung Garuda Pancasila. Dan ini, viral di media sosial juga.

Yang bertanda tangan di bawah surat itu, Sekretaris Jenderal atas nama Pimpinan DPD-RI, Resdonnezar Moenek, M.

Hari ini, Selasa 1 Oktober 2019 di Gedung Nusantara V MPR/DPD Ri  berlangsung pemilihan Pimpinan DPD RI, kemudian  penetapan Pimpinan DPD RI terpilih. Pengucapan sumpah dan janji, juga dilakukan malam ini.

Para undangan bapak dan ibu anggota DPD terpilih,  diberi  dresscode, untuk pria batik lengan panjang sedangkan wanita menyesuaikan.

Beredar juga lewat whatsapps ke telepon para pimpinan media digital, wakil-wakil menurut Tatib DPD RI.

Ada nama-nama tiga pimpinan  dari Indonesia Timur, sebut saja Mahyudin (Kalimantan), Nono Suparno (Ambon) dan La Nyala (Makasar).  Sedangkan, satunya dari barat adalah Sultan Najamudin.

“Yang ideal, ketua DPD RI itu adalah sosok yang tidak punya konflik,” ujar Rahman, pria yang sempat dua kali menjadi anggota Dewan Pimpinan Daerah.

Tokoh muda yang kini menjadi pengamat politik ini menyebut, konflik yang mengeras dua bulan belakangan ini, tak baik untuk lembaga negara yang merupakan produk reformasi di bangsa ini.

Friksi yang awalnya sebagai sebuah dinamika, mesti dinormalkan oleh pihak-pihak yang tidak menjadi bagian dua kubu, antara Osman Sapta Odang dan Ratu Hemas.

Nama yang disebut “kuat” oleh Lembaga Riset Investigasi dan Multimedia, menurut Rahman tidak bisa menyelesaikan persoalan dan menyelesaikan aspirasi daerah.

“Kita perlu, anak muda yang juga berpengalaman di dunia politik, Sultan Najamudin figur yang pas. Netral, non konflik, kemudian Istana bisa menerima, demikian juga partai bisa,” tutur Rahman.

Dengan track record selama ini, Rahman menilai Sultan Najamudin sebagai “kuda hitam.” Karena anak muda ini, juga dekat dengan dunia internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kompas Politik